Menyimak Apresiatif dan Kreatif- LISA
MINI RISET
MENYIMAK KREATIF DENGAN MENGANALISIS
FILM : 99 CAHAYA DILANGIT EROPA TAHUN 2013”
Dosen Pengampu : Dr. Mohammad Joharis, M.Pd.
Mata Kuliah : Menyimak Apresiatif dan Kreatif
Disusun Oleh:
LISA (2191111024)
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
APRIL
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas rahmat dan berkat kasih sayang-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas MiniRiset (MR) yaitu menganalisis film yang berjudul 99 Cahaya Dilangit Eropa mata kuliah Menyimak Apresiatif dan Kreatif.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada:
Bapak Dr. Syamsul Arif, M.Pd., selaku ketua jurusan bahasa dan sastra Indonesia,
Ibu Trisnawati Hutagalung, S.Pd., M.Pd, selaku sekretaris jurusan bahasa dan sastra Indonesia,
Ibu Fitriani Lubis, S.Pd., M.Pd, selaku ketua prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia,
Bapak Dr. Mohammad Joharis, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Menyimak Apresiatif dan Kreatif.
teman yang membantu kelompok kami baik langsung maupun tidak langsung, dan
orang tua tercinta yang tidak bosan-bosannya memberikan dana kepada kami.
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi pembaca.
Medan, 26 April 2020
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................1
Latar Belakang Masalah..................................................................................1
Rumusan masalah............................................................................................1
Tujuan..............................................................................................................1
Manfaat............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................3
Identitas Film...................................................................................................3
Sinopsis pada film............................................................................................3
Pemeran film 99 Cahaya di Langit Eropa........................................................5
BAB III PENUTUP......................................................................................................6
Simpulan...........................................................................................................6
Saran.................................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................7
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang pertama berkembang pada setiap individu, bahkan ketika manusia masih berada dalam kandungan. Pentingnya menyimak bukan saja karena mempunyai berbagai manfaat, tetapi juga karena menyimak menempati ruang paling besar dalam aktivitas komunikasi.
Film merupakan salah satu materi simak yang harus diajarkan di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (FBS, Unimed). Untuk memahami alur cerita dalam film, mahasiswa membutuhkan strategi yang tepat, sehingga mereka dapat memahami maksud film atau amanat yang disampaikan penulis pada cerita film yang di tayangka pada Televisi. Dengan menganalisis film di butuhkan tingkat menyimak yang tinggi, terlebih menyimak pada film dengan bahasa yang tidak kita pahami ataupun film yang berasal dari luar negeri.
Oleh karena itu, menyimak mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses berinterkasi dan berkomunikasi di dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu juga lah mengapa pembelajaran keterampilan berbahasa diajarkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama menyimak, yang memiliki persentase paling banyak dalam berinteraksi dan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
Film apa yang akan kita simak dalam proses menyimak ?
Apa yang dapat kita hasilkan dalam menyimak ?
Dapatkah kita menerapkan proses menyimak dari sebuah film ?
C. Tujuan
Untuk mengetahui cara menerapkan proses menyimak.
Mendapatkan kreatifitas dalam menyimak.
1
Untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Menyimak Apresiatif dan Kreatif.
C. Manfaat
Dengan menerapkan proses menyimak pada sebuah film dapat meningkatkan kemampuan berfikir yang tinggi.
Dengan menyimak kita bisa belajar menjadi orang yang berliterat.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Identitas Film
99 Cahaya Dilangit Eropa adalah film drama religi tahun 2013 dari indonesia. Film ini adalah film ke-40 yang dirilis oleh Maxime Pictures. Berikut adalah yang berpartisipasi dalam film tersebut yaitu:
Sutradara : Guntur Soeharjanto
Produser : Ody M Hidayat
Penulis : Alim Sudio, Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Berdasarkan : 99 Cahaya di Langit Eropa, Karya Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Pemeran : Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernandez, Dewi Sandra Marissa Nasution, Alex Abbad
Musik : Cahaya di Langit Itu Fatin Shidqia, Cipt. Nukke Kusumadewi
Penyunting : Ryan Purwoko
Distributor : Maxima Pictures
Tanggal rilis : 29 November 2013 (premier), 5 Desember 2013 (rilis)
Durasi : 100 menit
Negara : Indonesia
Anggaran : Rp15 miliar
B. Sinopsis pada film
Dalam kegiatan menyimak yang apresiatif dan kreatif memudahkan kita menangkap isi cerita dalam film tersebut, Tetapi dengan menyimak dengan baik serta berusaha maka menyimak yang saya lakukan dalam film ini dapat diselesaikan.
3
99 Cahaya di Langit Eropa merupakan film yang diadaptasi dari novel best seller berjudul sama yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.
Dikutip dari imdb.com, film ini bercerita tentang perjalanan hidup Hanum Salsabiela Rais bersama sang suami Rangga Almahendra.Adapun tokoh Hanum diperankan oleh Acha Septriasa, dan Abimana Aryasatya sebagai Rangga.
Dikisahkan, Hanum sebelum ikut Rangga berprofesi sebagai jurnalis dan pembawa berita stasiun televisi swasta di Indonesia. Hingga kemudian ia berhenti dari pekerjaanya untuk menemani Rangga yang kuliah doktorat di Vienna, Austria. Cara mereka beradaptasi, bertemu dengan sahabat mereka di Benua Biru akan diceritakan dalam film ini. Dikutip dari Tribunnewswiki.com, terbiasa sibuk saat di Indonesia membuat Hanum merasa bosan karena tidak mempunyai kegiatan apapun saat ditinggal suaminya kuliah. Ia kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan.
Di tengah usaha Hanum mencari pekerjaan, ia bertemu dengan Fatma Pasha yang diperankan oleh Raline Shah. Mereka bertemu dan bekenalan di sebuah tempat kursus bahasa Jerman. Fatma adalah seorang wanita Turki yang juga sedang mencari pekerjaan. Fatma bercerita kepada Hanum bahwa ia pernah ditolak saat melamar kerja. Alasan pemilik toko menolaknya yakni karena bahasa Jermannya yang kurang bagus.
Namun Fatma menduga dirinya ditolak lebih karena memakai jilbab.Banyak hal yang kemudian dibicarakan keduanya, termasuk tentang agama Islam.Mendengar cerita Fatma, Hanum kagum dengan ibu satu anak itu. Bagi Hanum, Fatma adalah wanita yang cerdas dan mempunyai perilaku baik sebagai seorang ibu, muslimah, dan wanita.Ia pun juga merasa cocok dengan Fatma karena menganut agama yang sama. Suatu hari, Hanum diajak ke Bukit Kehlenberg, tempat yang menurut cerita Fatma menjadi saksi kegagalan ekspansi Turki pimpinan Kara Mustafa ke wilayah Eropa Barat. Dari Fatma, Hanum kemudian belajar mengenai jejak Islam di Eropa yang dibawa oleh bangsa Turki di era Merzifonlu Kara Mustafa Pasha dari Kesultanan Utsmaniyah. Tak hanya Hanum, Rangga pun juga belajar banyak hal tentang menjadi seorang muslim di Eropa. Pengetahuan mereka tentang Islam semakin bertambah setelah Fatma mengenalkan Hanum kepada sejarawan Prancis, Marion Letimer yang diperankan Dewi Sandra.
4
C. Pemeran film Mujhse Dosti Karoge
Acha Septriasa sebagai Hanum Salsabiela Rais, seorang jurnalis Indonesia yang selama tiga tahun menemani suaminya, Rangga Almahendra yang sedang menjalani kuliah doktorat, dan kemudian mulai mengenal sejarah dan pengaruh Islam yang dibawa oleh bangsa Turki di era Kesultanan Utsmaniyah di Eropa, mulai dari Vienna, Paris hingga Istanbul.
Abimana Aryasatya sebagai Rangga Almahendra, suami Hanum yang menjalani studi doktorat di Universitas di Vienna, Austria.
Raline Shah sebagai Fatma Pasha, wanita muslim berdarah Turki yang dikenal Hanum di Austria.
Dewi Sandra sebagai Marion Latimer, seorang mualaf yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris.
Alex Abbad sebagai Khan, pemuda Muslim asal Pakistan yang merupakan teman kuliah doktorat sekaligus teman dekat Rangga.
Nino Fernandez sebagai Stefan, teman kuliah doktorat sekaligus teman dekat Rangga di kampus.
Marissa Nasution sebagai Maarja, karakter yang berkonflik dengan Rangga dan Khan karena perbedaan sudut pandang.
Geccha Tavvara sebagai Ayse,[3] puteri dari Fatma.
Fatin Shidqia sebagai dirinya sendiri
Dian Pelangi sebagai dirinya sendiri
Hanum Salsabiela Rais sebagai dirinya sendiri
5
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Film merupakan media yang dapat kita jadikan dalam menyimak, tanpa kita sadari menonton film kartun, komedi, dan film drama lainnya dan mengetahui jalan ceritanya kita sudah dikatakan menyimak, hanya saja dalam menyimak memiliki tingkatan dan jenisnya. Namun dengan menonton film kita dapat melatih daya simak kita agar menjadi orang yang berliterat.
Menyimak juga merupakan sebuah proses mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, menilai, dan mereaksi makna. Dan menyimak merupaka aktivitas yang menuntut partisipasi, keikutsertaan, keterlibatan sang penyimak terhadap hal-hal yang disimak. Agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal.
B. Saran
Karena menyimak memiliki peran yang sangat penting dan sangat banyak dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari, maka sangat penting juga bagi kita untuk mengetahui dan memahami menyimak dengan baik. Agar mendapatkan pesan, informasi, gagasan atau hal-hal yang tidak keliru baik itu dari film, lagu, puisi, dll. Dan agar tidak terjadinya kesalahpahaman dan miskomuniksai dalam berkomunikasi.
6
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menyimak : Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Hermawan, Herry. 2012. Menyimak : Keterampilan Berkomunikasi Yang Terabaikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/99_Cahaya_di_Langit_Eropa_(film)
Komentar
Posting Komentar